Timnas Kosovo di Antara Sepakbola dan Trauma Perang

 

Inggris diprediksi berhasil gampang dalam perlombaan Tim A kualifikasi Piala Eropa 2020 pada 11 September 2019 kemarin. Alasannya, rival yang mereka hadapi yakni Kosovo, regu gurem dari antah berantah yang tidak memiliki riwayat mentereng di alam sepakbola Eropa.

Tetapi, bola itu bundar serta seluruh mungkin dapat terjalin di alun- alun. Tidak dinyana, Kosovo membagikan perlawanan hebat. Pemastian para pemeran sejauh 90 menit perlombaan membuat Inggris wajib menghasilkan daya ekstra. Walaupun pada kesimpulannya The Three Lions berhasil, berhasil, gawang mereka harus ambrol 3 kali. Keseluruhan, terdapat 8 berhasil yang terwujud di malam itu.

Kejutan 3 berhasil yang didatangkan Kosovo bisa jadi membuat bingung. Tetapi, perihal itu nyata meyakinkan kalau Kombëtarja e futbollit të Kosovës—timnas sepakbola Kosovo dalam bahasa Albania—dapat berdialog lebih dari yang diperkirakan banyak orang.

Serta buat menggapai titik itu, pastinya Kosovo lewat peperangan yang tidak gampang.

Baca pula: Etnik serta Agama dalam Bentrokan Serbia serta Kosovo

Perang serta Kemanusiaan

Membahas sepakbola dalam kondisi Kosovo bagaikan suatu area tidak dapat dilepaskan dari asal usul perang yang menyerang negara itu pada akhir 1990- an.

Mulanya, Kosovo ialah wilayah independensi di Yugoslavia. Idiosinkrasi itu diserahkan oleh Josep Broz Tito pada 1974. Independensi yang diperoleh Kosovo mencakup hal legislatif serta peradilan. Hendak namun, suasana berganti apabila Tito tewas serta tampuk kewenangan alih ke Slobodan Milosevic.

Dengan jargon ultra- nasionalisme, pemerintahan Milosevic berusaha keras melenyapkan status independensi Kosovo. Tidak tidak sering, Milosevic mengenakan pendekatan yang mengarah represif alhasil membuat warga Kosovo tidak lagi leluasa menikmati hak- haknya.

Di dikala berbarengan, tindakan pemerintahan Milosevic mendesak lahirnya aksi perlawanan. Salah satu yang populer ialah Angkatan Pembebasan Kosovo( KLA) yang timbul pada 1996. Desakan KLA nyata: mau melepaskan Kosovo jadi negeri yang berhak penuh. Usaha ini tidak banyak dibantu oleh bumi global.

Kemauan Kosovo buat merdeka dilandasi 2 kondisi. Awal, kebanyakan masyarakat Kosovo merupakan generasi Albania. Bahasa nasional mereka juga memakai bahasa Albania. Kedua, beberapa besar masyarakat di Kosovo melekap Islam, ternyata Kristen ataupun Kristen Kolot.

Oleh Milosevic, KLA dikira bagaikan bahaya serta hingga dari itu wajib dimusnahkan. Suasana ini membikin Kosovo berapi- api. Pada 1998, perang meletus serta menimbulkan belasan ribu orang berpulang serta ratusan ribu lainnya—sekitar 90 persen populasi—mengungsi ke negeri lain, menjadikannya bagaikan darurat humaniter terparah pasca- Perang Bumi II.

Bermacam usaha perdamaian dicoba, mengaitkan NATO, AS, hingga PBB. Cinta, meja negosiasi tidak menghasilkan hasil. Kesimpulannya, pada Maret 1999, NATO meluncurkan serbuan hawa di semua Yugoslavia. Serbuan ini memukul mundur gerombolan Yugoslavia. Tidak cuma itu, berjarak sebagian bulan, Milosevic turun takhta. Dengan tanda“ penjahat perang” yang melekat di badannya.

Berakhirnya bentrokan membuka pintu impian untuk Kosovo, yang sehabis perang berkobar ditempatkan di dasar administrasi global. Satu dasawarsa setelah itu, persisnya pada 17 Februari 2008, negeri ini melaporkan kemerdekaannya, meski ditentang oleh negara- negara satu area semacam Serbia.

Baca pula: Marah serta Kerinduan Xherdan Shaqiri serta Granit Xhaka

Ditekan Saat sebelum Kesimpulannya Berkembang

Sepakbola di Kosovo beranjak dalam antap di antara ruang- ruang bentrokan. Dikala Milosevic berdaulat, serta getol melanggengkan kekuasaannya dengan cara- cara kekerasan, sepakbola jadi benda yang dilarang oleh pemerintahan.

Informasi BBC mengatakan kalau pada era itu, perlombaan bola di Kosovo diselenggarakan di posisi terpencil—umumnya pedesaan. Fans tiap- tiap klub hendak terkumpul di lereng busut buat menyaksikan. Tetapi, ekspedisi ke sana tidak sempat gampang. Mereka wajib melampaui pos pengecekan yang diisi para angkatan.

Apabila angkatan ataupun polisi mengalami mereka akan berangkat menyaksikan bola, ditahan sepanjang berjam- jam tanpa kejelasan jadi konsekuensinya. Tidak hanya menahan pemirsa, petugas pula tidak ragu membubarkan perlombaan ataupun menangkapi pemeran dan pengasuh klub.

“ Saya memandang seseorang kawan satu regu diseret sewaktu perlombaan. Kita menunggu sepanjang 3 jam. Sehabis dibebaskan, mukanya bedan dampak dipukuli,” kata Kushtrim Munishi, mantan penyerbu klub kediaman atas Kosovo, FC Pristina.

Kondisi meningkat kurang baik ketika perang meletus pada 1998- 1999. Situasi yang chaos—orang- orang mati, stadion sirna, klub bubar—membuat sepakbola di Kosovo semacam tidak memiliki era depan.

Berakhir bentrokan, kondisi tidak hanya pulih. Tidak lama sehabis menyatakan kebebasan, semacam ditulis James Montague dalam” The Dawn of Kosovo’ s Football Nation” yang keluar di Bleacher Report( 2016), Kosovo mengajukan keanggotan ke FIFA. Tetapi, ide itu ditolak berulang kali.

Pihak yang sangat bunyi menentang ide keahlian Kosovo tidak lain serta tidak bukan yakni Serbia. Bagi mereka, status Kosovo tidaklah negeri. Membenarkan ide Kosovo serupa saja membuka mungkin timbulnya bentrokan yang terkini.

Tidak diakuinya timnas Kosovo di mata global, ingin tidak ingin, membuat kemajuan sepakbola negeri ini jalur di tempat. Pembangunan prasarana, pengembangan perguruan tinggi pemeran belia, ataupun penajaan pertandingan di tingkatan lokal serupa sekali tidak terdapat gaungnya.

Lama- lama, ketahanan Kosovo mendatangkan hasil. Pada 2014, memberi tahu The Guardian, mereka diperbolehkan FIFA buat melangsungkan perlombaan pertemanan melawan Haiti. Syaratnya: tidak bisa terdapat ikon regu nasional, bendera, hingga lagu kebangsaan.

Biarpun cuma perlombaan pertemanan, dengan rival selevel Haiti pula, karcis senantiasa terjual habis cuma dalam durasi 4 jam. Stadion ketat oleh pemirsa.

Ironisnya, sebagian jam saat sebelum kick- off, lapisan pemeran Kosovo sedang belum komplit. Mereka menunggu afirmasi dari FIFA buat mengenakan pelayanan pemain—keturunan Kosovo—yang tertera di negeri lain. Permisi kesimpulannya pergi serta Kosovo bisa melakukan perlombaan dengan jumlah pemeran yang pantas.

2 tahun selanjutnya, angan- angan besar Kosovo terkabul. Semacam diwartakan Reuters, UEFA sah menyambut Kosovo masuk dalam keanggotaannya—menjadi badan ke- 55. Sebesar 28 anggota—jumlah minimal yang diperlukan—memberikan suara mereka buat Kosovo serta 24 yang lain menyangkal dalam satu konferensi yang berjalan jauh serta lumayan panas.

“ Kesimpulannya, kita mempunyai[tim olahraga] negeri kita sendiri. Mimpi itu jadi realitas. Kita memiliki regu nasional yang bisa main di[level] global,” jelas Kepala negara Kosovo, Hashim Thaci, pada CNN.“ Regu merupakan ikon negeri kita. Menggantikan bukti diri kita, bendera kita, serta lagu kebangsaan kita. Itu merupakan pangkal kebesarhatian. Itu membuatku besar hati jadi orang Kosovo.”

Sehabis UEFA, sedang di tahun yang serupa, Kosovo diperoleh pula oleh FIFA. Ini membuat mereka berkuasa menjajaki kualifikasi Piala Bumi 2018—untuk kali awal sejauh sejarah—di Rusia.

Tetapi begitu, ekspedisi Kosovo di pertandingan itu tidak selesai lembut. Di dasar ajaran Albert Bunjaki, instruktur timnas semenjak 2009, Kosovo takluk 9 kali serta cuma sekali timbal dalam 10 perlombaan.

Dengan cara biasa, kebangkitan Kosovo tidak bebas dari partisipasi Fadil Vokrri, mantan kepala negara federasi sepakbola negeri itu. Beliau merupakan salah satu orang yang sedemikian itu beriktikad kalau sepakbola ialah metode terbaik buat menciptakan reka ulang Kosovo pasca- perang.

Meletusnya perang membuat Vokrri alih ke Perancis. 5 tahun berakhir bentrokan selesai, beliau kembali ke Kosovo serta bersandar di bangku no satu federasi sepakbola Kosovo.

Profesinya dapat dikatakan tidak gampang. Begitu juga dicatat BBC, Vokrri mengawali seluruhnya dari nihil. Kantornya yang terdapat di Pristina, misalnya, cuma terdiri dari 2 meja serta 2 pc. Beliau tidak memiliki banyak karyawan, pula tanpa perhitungan operasional.

Tetapi begitu, Vokrri tidak patah arang. Bersama Errol Salihu, yang berprofesi sekretaris jenderal federasi, beliau bergerilya mencari sokongan buat Kosovo sekalian memastikan banyak orang kalau sepakbola di Kosovo belumlah mati.

“ Ayahku tidak sempat membuat keterangan politik dalam hidupnya serta cuma berpusat pada sepakbola. Sepakbola, untuknya, lebih besar dari segalanya. Itu visinya,” tutur Gramoz, putra tertua Vokrri.“ Seperti itu yang membolehkan Kosovo dapat masuk UEFA serta FIFA.”

Keinginan Kosovo supaya diakui global berhasil diselesaikan kala mereka diperoleh UEFA serta FIFA. Khalayak juga menyambutnya dengan hiruk- pikuk gempita. Tetapi, berita bahagia itu kilat berganti jadi gelisah yang mendalam sesudah Vokrri tewas bumi pada 2018.

“ Berulang kali saya meratap serta berupaya menyembunyikannya,” ucap Salihu, pada ESPN, menjawab keberangkatan tiba- tiba si kepala negara bola.

Buat mengenang jasanya, julukan Vokrri diabadikan jadi julukan stadion markas FC Prishtina, salah satu klub sepakbola terbanyak di Kosovo.

Asa Baru

Sesudah sah masuk keahlian UEFA serta FIFA, Kosovo mulai berbenah. Mengucurnya dorongan dari 2 institusi itu membuat Kosovo lebih lapang membenarkan situasi sepakbola mereka.

Perihal awal yang digarap merupakan prasarana, dalam perihal ini stadion. Bergelora perang sudah menimbulkan sarana sepakbola di Kosovo tidak pantas buat. Sepanjang bertahun- tahun, ambil ilustrasi, mengambil pemberitaan Balkan Insight, timnas Kosovo wajib mengadakan perlombaan kandang di Shkodra, Albania, karena stadion mereka tidak celus kualifikasi standar dari FIFA.

Pada 2018, Kosovo merenovasi stadion Fadil- Vokrri di Pristina. Penyempuraan itu menyusul pembangunan 6 alun- alun ciptaan di 7 area yang sudah dicoba semenjak 2016. Sebagian bulan setelahnya, penguasa Kosovo memublikasikan akan mendirikan stadion nasional terkini berkapasitas 30 ribu pemirsa yang rencananya berakhir dan ditetapkan dalam 2 hingga 3 tahun kelak.

Pembangunan sarana sepakbola ini tertuju buat mensupport pengembangan para pemeran lokal yang jumlahnya bertambah dari tahun ke tahun.

“ Terus menjadi banyak pemeran yang berasosiasi dengan regu[usia] belia kita tiap tahun. Pada 2014, kita cuma memiliki 150 pemeran. Saat ini, kita memiliki lebih dari 300,” nyata Arton Hajdari, Ketua Pusat Pengembangan Pemeran Umur Belia di KF Feronikeli, klub dari kota Drenas.“ Kita wajib membuat lebih banyak alun- alun supaya dapat mengakomodasi seluruh orang.”

Tidak hanya sarana, Kosovo pula membuat sistem kepelatihan yang profesional. Kewajiban ini dijalani oleh Michael Nees, Ketua Teknis FFK—PSSI- nya Kosovo—asal Jerman. Dengan sokongan UEFA, Nees hendak menolong para instruktur lokal buat mendapatkan sertifikat dari UEFA. Targetnya: tingkatkan jumlah instruktur di Kosovo hingga dapat mendobrak nilai 500 pada 2021.

“ Kita mempunyai banyak pemeran belia yang berbakat,” cakap Sanije Krasniqi, Ketua Perguruan tinggi Pemeran Belia FFK.“ Tetapi, beberapa besar, terkait pada para instruktur buat menolong mereka berjalan jauh dalam game. Bila kita melaksanakan profesi[ini] dengan betul, era depan hendak amat terang.”

Hasilnya, sedikit untuk sedikit, mulai nampak. Timnas Kosovo saat ini tidak lagi jadi candaan semacam dikala kualifikasi Piala Bumi 2018 dahulu, melainkan sudah jadi kesebelasan yang penuh pemastian serta antusiasme main yang besar.

Di dasar aba- aba Bernard Challandes, instruktur asal Swiss yang ditunjuk pada Maret 2018, timnas Kosovo menggoreskan pendapatan yang eksklusif: cuma sekali takluk dalam 13 perlombaan terakhir semenjak dini September 2018. Ini telah tercantum rekor 4 kali berhasil, 2 kali timbal, serta tanpa terharu kegagalan di perlombaan tim D UEFA Nations League.

Salah satunya kegagalan yang mereka berpenyakitan merupakan kala melawan Inggris serta perihal itu tidak menutup pintu buat mimpi yang bisa jadi tidak sempat tergambar tadinya: main di Piala Eropa.

Dikala ini, mereka terletak di posisi ketiga tim A dengan keseluruhan 10 nilai dari keseluruhan 5 perlombaan. Bila mereka dapat melindungi irama di 3 perlombaan terakhir, pintu ke Piala Eropa 2020 hendak terbuka luas, sekalipun melalui rute play- off.

“ Mimpi itu lalu berjalan,” tutur kapten sekalian pengawal gawang timnas, Samir Ujkani, pada The Guardian.“ Bila kita bisa membuat[lolos dari kualifikasi] jadi realitas, hingga itu merupakan perihal yang luar lazim. Tetapi, yang penting merupakan kalau kita merupakan regu yang lalu mau berkembang serta membuat era depan yang bagus buat negeri kita,” tambahnya.

Timnas Kosovo diisi talenta- talenta belia. Cuma terdapat 2 pemeran dalam catatan regu yang berumur 30 tahun ke atas. Di lini balik, terdapat Fidan Aliti( 26), Amir Rrahmani( 25), dan Megrim Vojvoda( 24). Sedangkan lini tengah ditopang para pemeran berbagai Milot Rashica( 23) serta Arber Zeneli( 24 tahun). Tiap- tiap mengecap 2 serta 4 berhasil. Buat kewajiban menjebol gawang rival, Kosovo memiliki Vedat Muriqi( 25), penyerbu asal Fenerbahce yang sepanjang ini sudah mengecap 5 buah berhasil.

Nyaris kebanyakan pemeran yang terdapat saat ini berkembang dari keluarga diaspora, yang bermukim di bermacam negeri di Eropa semacam Swiss, Albania, sampai Norwegia, kala bentrokan meletus. Biarpun sedemikian itu, mereka dipersatukan satu tujuan: mengangkut martabat Kosovo bagaikan suatu bangsa yang sempat diterpa bentrokan suram.

“ Nyaris 90 persen dari mereka[pemain timnas] lahir di luar Kosovo. Tetapi, Kosovo merupakan tanah air orangtua mereka. Serta mereka main di timnas dengan intensitas ataupun patriotisme yang besar,” ucap Agim Ademi, Kepala negara KFF.“ Mereka mengetahui kalau Kosovo merupakan rumah mereka serta mereka hendak membagikan segalanya buat itu.”

Bentrokan yang meninggalkan darah, kehabisan, serta gelisah berkelanjutan ialah guncangan yang tidak hendak sempat lenyap dari isi kepala warga Kosovo. Dengan sepakbola, mereka lagi berupaya menggerogoti guncangan itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *